Matahari Terbit dari Rumahku

dee_why_beach_sunrise_wallpapers_hd-768x480

Kudus, 5 Agustus 2016

Sebelum lupa dan terlupakan oleh aktivitas yang berlari di sekelilingku, aku akan kisahkan kepadamu sebuah kisah yang –jika kau berada di posisiku, tentu kau akan sepakat denganku- mengharu-biru.

Pagi ini, matahari tidak terbit di timur seperti hari-hari biasanya. Ia tiba-tiba memilih terbit dari kamarku, melalui sudut jendela kayu yang satu itu. Bagaimana bisa aku tak kaget dan terpana melihat kejadian itu. Aku berjalan mengikuti arahnya meninggi, keluar dari kamar, menuju ruang tamu. Kemudian ia keluar pintu ruang tamu, ia mengetuk pintu, hendak keluar, menghadapkan wajahnya kepadaku. Lihatlah, wajah matahari itu tersenyum memandangku. Tiba-tiba ia berubah wujud menjadi seperti seorang manusia. Dengan dua tangan dan dua kaki. Ia meraih bahuku. Yang kanan ditepuk tiga kali, sedang yang kiri digenggamnya erat. Aku masih takjub menatapnya. Hatiku bertanya, “Ada apa sebenarnya dengan hari ini?”

Lihat.. Bibirnya mulai bergerak, satu detik, dua detik. Ia berkata, “Kawan, subuh tadi, aku tiba-tiba mendengar sebuah perintah yang mengharuskanku untuk terbit dari kamarmu. Perintah itu kudengar berulang-ulang, berpuluh-puluh kali. Dengan nada yang agak menekan seakan aku pernah terlambat terbit di hari-hari yang kulewati. Padahal seperti yang kau tau, aku bahkan tak pernah memiliki niat terlambat walau sedetik.” Ia berhenti sejenak, menarik nafas, tertawa, giginya nampak putih.

Ia melanjutkan, “Aku bertanya sama halnya dengan dirimu yang bertanya, ‘Ada apa dengan hari ini?’ lalu aku mendengar sebuah titah, ‘Pergilah dan temui anak ini, hari ini ia berhak untuk senang dan bersyukur pada tuhannya’ Suara itu kemudian berhenti sejenak. ‘Kau tahu mengapa, matahari?’ nada suaranya tiba-tiba berubah menjadi serius. ‘Sebab Allah telah meluluskannya dari sebuah ujian’

‘Lalu apa istimewanya lulus dari sebuah ujian?’ jawabku bertanya-tanya dalam hati

Ternyata Dia mendengar pertanyaan hatiku, ‘Ketahuilah matahari, kalau engkau suatu saat nanti memahami watak dan tabiat seorang makhluk bernama manusia, engkau tentu merasa ingin menjadi manusia. Jiwanya memang terlahir kuat, namun di beberapa kesempatan dia sungguh rapuh. Bahkan tak berbentuk. Namun ia berusaha untuk tak membiarkan jiwanya hancur, bocah ini sungguh telah berusaha berjuang. Mati-matian. Berusaha mengalahkan pertikaian dalam dirinya. Untuk menyerah, membiarkan semuanya berlalu begitu saja dan tak peduli atau tetap bertahan sekalipun ia menangis dan mengais-ngais sisa semangat masa lalunya. Ia sudah terlalu lelah dengan pertikaian itu. Selangkah lagi ia akan menyerah, namun tiba-tiba ia ditakdirkan Allah untuk bertemu dengan seseorang yang telah melahirkannya. Dan kau sungguh akan menangis, matahari, jika mengetahui pertemuan itu’ Suara itu berhenti, kali ini ia memberi jeda yang lama, hingga terasa sedikit mencekik.

Malam Pertemuan, di saat bocah itu sudah semakin terseok. Pandangannya kabur, hatinya sudah luluh lantak, pikirannya kacau balau, dan tak mengerti apa yang ia ucapkan. Hanya satu kalimat yang ia dengungkan saat itu, aku yakin, itu kalimat yang paling tulus yang pernah ia ucapkan. Tak ada pencitraan, atau bahkan kepura-puraan. Ia berkata lirih, terdengar pilu, menggoncang langit ‘Ampuni aku Ya Allah, Ampuni aku…’

Matanya memerah, airnya mengalir, pelan, membasahi wajahnya. Tiba-tiba ia tergugu. Hingga antara sadar dan tidak, saat ia berada di puncak kesulitan, saat ia sudah hampir membakar harapannya, saat ia ingin menenggelamkan dirinya di tengah laut kenestapaan. Ia bertemu dengan seseorang yang pernah melahirkannya. Mendekatinya, menanyainya, ‘Apa yang kau lakukan di tengah malam seperti ini, sendirian?’

Yang ditanya terkaget, mundur beberapa langkah. ‘a, a, aku..’ Dengarlah, bahkan mulutnya saja sudah tak sanggup merangkai kalimat utuh. ‘a, a, akuu..’ ia terhenti, tak bisa berbicara lebih panjang dari itu.

Saat pertemuan itu kian menegangkan, seseorang yang pernah melahirkannya itu berkata pelan, namun sejuk menenteramkan. ‘Nak, mengapa kau menjadi seperti ini, memupuskan semua harapan yang pernah kau tanam di pekarangan rumah kita, yang tumbuh menjadi pohon lebat, manis lagi segar saat dikunyah, yang tetangga-tetangga kita tak akan memasak hari itu jika mereka telah makan buah kita, sebab buah kita telah mengenyangkan perut mereka sehari semalam. Mengapa kau begitu payah menghadapi semua ini? Mengapa kau menjadi lemah, saat semua ujian ini menderamu? Nak, kau tak perlu menjawab semua itu. Malam ini, kau hanya cukup mendengarku saja berbicara, ‘Ketahuilah nak, seberat apapun ujian kita, sesulit apapun masalah yang menimpa, setajam apapun pisau kehidupan ingin menusuk jiwamu, semengerikan apapun malam-malam yang kau lewati, sekeras apapun badai samudera menerpamu, kau tetap anakku. Engkau masih memiliki pegangan. Sekalipun semua tiang di kapal kita sudah roboh atau terbakar. Sekalipun kita tak memiliki tempat kembali. Sekalipun semua orang membenci kita. Sekalipun diri kita bahkan mencemooh sikap kita. KITA TETAP MEMPUNYAI ALLAH. Kita masih berhak menjura di hadapanNya, kita masih berhak memohon segalanya kepadaNya, sekalipun kita hina. Karena…

Karena Dia Maha Mengetahui segala-galanya. Karena Dialah penguasa seluruhnya. Dengan kekuasaan mutlak di tanganNya, ia sanggup berbuat sekehendakNya. Maka tatalah hatimu, tenangkan fikiranmu, ingatlah Dia, ingatlah Dia.’

Wanita itu menangis. Menyisakan suaranya saja, semakin lama semakin hening. Hanya deburan ombak saja yang masih terdengar. Dan tentu, ombak dalam hatinya kian tenang, bersama makin dekatnya waktu subuh.

“Hei, mengapa kau tiba-tiba memalingkan wajahmu dariku?” Matahari itu berujar

“Tidak, aku sepertinya mengetahui bocah itu” jawabku parau

“Baiklah, tak apa, aku tidak tahu siapa dan bagaimana bocah itu, aku hanya melaksanakan perintah supaya terbit di kamarmu saja, aku akan kembali ke langit, meneruskan tugas masa laluku, tugas masa sekarang, dan tugas yang akan datang. Sampaikan salamku buatnya” Ia tertawa melihatku.

Sejenak hatiku hangat, tangannya menghangatkan seluruh perasaanku.

“Oh ya, kau tidak membukakan pintu supaya aku bisa keluar?” ucap matahari.

Aku tergagap..

“Oh, baiklah, silakan tuan matahari, selamat bertugas. Sampaikan pula salamku kepada bintang gemintang dan rembulan. Aku ingin melihat mereka malam nanti.”

Begitu ia keluar, wush.. udara pagi ini teramat menyejukkan. Tidak sama dengan hari-hari sebelumnya. Ya, tidak akan sama dengan hari-hari sebelumnya.

Nilai Ujian Al Azhar Syari’ah Islamiyah tingkat tiga telah keluar.

Iklan

Sejauh Mana ‘Marhaban Ya Ramadhan’ kita?

Saat itu pukul 22.30, Setelah usai shalat tarawih, seorang ayah duduk di salah satu sudut masjid Khazzan[1]. Di sampingnya seorang anak usia kisaran 4 tahun duduk bersisian, istirahat.

“Nak, malam ini kita sudah memasuki malam keempat ramadhan, itu artinya waktu kita semakin sedikit. Dan nanti tidak terasa tiba-tiba sudah mendekati hari ‘id. Maka sebelum semua itu terjadi, aku ingin bercerita kepadamu tentang suatu hal” Ucapnya tersenyum, wajah tuanya tersinari lampu neon masjid.

“Apakah itu ayahanda?” tanyanya polos

“Baik, dahulu, sekian abad dari masa kita ini, ada seorang alim ulama di Bashrah, ia terkenal pandai dan bijak, saking banyaknya mutiara yang keluar dari lisannya, seringkali perkataannya dinukil di beberapa kitab-kitab sekarang ini. Namanya adalah Imam Hasan Al Bashri. Ia pernah berkata, “Ya bna Adam, innama anta ayyam, fa idza dzahaba yaumun dzahaba ba’dhuk” (Wahai Ibnu Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari, jika satu hari berlalu, berlalu pula sebagian dirimu)

“Oh, begitu, kita ini adalah kumpulan hari? Bukankah tubuh kita terdiri dari kumpulan daging yah?” Ucapnya tertawa, batinnya, mengapa bisa disebut kumpulan hari?              

“Benar nak, kamu benar. Akan tetapi maksud perkataan beliau bukanlah demikian. Maksud ucapan beliau adalah bahwa waktu yang kita miliki sekarang adalah usia kita, itu adalah harta kita yang sesungguhnya. Karena ia terbatas dan jika sudah pergi ia takkan pernah kembali” Jelas ayah tersenyum, memandang putranya.

Yang dilihat hanya balas tersenyum, ber oh-oh saja.

“Coba kau ambil kertas dan pena di sampingmu itu” perintah ayahanda

Anak itu mengambil pena dan kertas, menyerahkannya pada ayah. Kemudian ia mulai menulis beberapa paragraf kalimat lalu angka, turun ke bawah. Lalu ia menulis beberapa kalimat setelah itu dengan rapi. Menyerahkan kembali kepada anak itu.

“Baiklah, coba kamu baca, satu persatu”

Ia melihat beberapa saat, satu detik dua detik, mengangguk. Memandang ke wajah ayah dan mulai membaca.

“Ramadhan adalah bulan yang mulia. Jika di dalamnya kau melakukan perbuatan yang sama dengan bulan yang lain, apa bedanya? Sedangkan engkau tidak mengetahui masih berapa ramadhan lagi yang kau miliki. Maka jadilah manusia yang berbeda. Dengan semakin menjaga hak-hak Allah dan ibadah kepadaNya. Pertama, perbanyak dzikir dan tilawah al-qur’an, kedua, jaga amalan-amalan sunnah, serta shalat rawatib, ketiga, ajaklah orang berbuat baik dan cegah kemungkaran, keempat, pergunakan waktu-waktu terbaik dalam berdoa, sepertiga malam terakhir, waktu sahur, antara adzan dan iqomah, ketika berbuka, setelah shalat subuh sampai terbit matahari. Catatan penting : sesungguhnya hidup itu tidak lain dari kumpulan menit dan detik.

Ia menghembuskan nafas, nampaknya agak lelah membaca semua itu untuk anak seusianya.

“Tak masalah nak, jika engkau tidak paham sekarang, karena sebenarnya nasihat ini untuk engkau dengan usia tiga kali lipat usiamu sekarang ini, empat kali lipat, lima kali lipat, dan seterusnya. Karena kulihat, banyak manusia sekarang hanya mengatakan ‘Marhaban ya Ramadhan’ namun ia tak pernah mengingat Allah kecuali sedikit, tidak pula mengisi hari-harinya dengan lebih semangat membaca Alquran, merenungi isinya, padahal di bulan inilah Alquran ini diturunkan, masih juga acuh tak acuh dengan saudaranya, padahal al amru bil ma’ruf wa an nahyu ‘anil munkar itu akan menguatkan ketaatan mereka pada Allah, masih juga tidak peduli dengan amalan-amalan sunnahnya, shalat rawatib pun tak dilaksanakannya, berdoa pun sedikit. Lalu mengapa mereka selalu mementingkan dunia daripada akhiratnya? Porsi untuk dunianya terlampau banyak. Sedang untuk akhiratnya enggan sekali mereka memenuhi. Lalu ingin masuk surga?” ada nada jengkel di sana, ia berusaha menenangkan diri.

Anak itu tersenyum, bisa jadi ia paham, bisa jadi ia hanya ingin tersenyum, melihat wajah ayahnya yang kesal.

 

Malam keempat Ramadhan, dini hari, 09 Juni 2016, di salah satu sudut masjid Khazzan, mengamati dengan senyum haru.

[1] Salah satu masjid di sudut District 10th, Nasr city, Cairo. Beberapa hari yang lalu telah selesai direnovasi, ruangannya luas dan ber-AC, teduh dan nyaman jika kau sempatkan diri untuk shalat di sana, lebih-lebih saat musim panas seperti saat ini. Dinamakan Khazzan, karena dekat dengan khazzan (penampung air besar) yang menyuplai kebutuhan air di sekitarnya hingga jarak sekian kilometer.

Selamat Datang di rumah kami, Ramadhan 1437

Malam ini, lelaki itu memandang siratan rembulan. Matanya terharu berkaca-kaca. Wajah mudanya menyiratkan kebahagiaan yang tak terkata. Bibirnya bergetar, mengucap syukur berulang kali. Seakan ia merasa bahagia terlahir di dunia ini. Ia tak mampu menahan segala rasa yang membuncah dalam dirinya. Sungguh, betapa menyenangkannya malam ini.

“Akhirnya aku bertemu dengannya kembali” ia bertutur di antara angin musim panas yang menderu. Tak hirau dengan sekitar, ia hanya ingin memandang langit, melantunkan doa-doa yang syukur yang tiada terkira. Sedang di dalam hatinya, ia ingin berdiri di sana, di dekat sungai tempat dahulu ia menghabiskan malam pertama dengannya, untuk selalu berpikir dan merenung, tentang segala yang akan ia lakukan dalam menghabiskan hari dan malam-malam berikutnya.

Malam itu adalah malam pertama ramadhan. Sebelas bulan penantiannya, syukurlah tak sia-sia. Allah masih memberikan kesempatan padanya, bersua. Maka, ia berucap janji dalam diri, untuk tak akan menyiakan kesempatan yang telah diberi, barangkali esok atau lusa ia tak pernah kembali.

Maka ia teringat segala sesuatu. Tentang ia, tentang ramadhan. Bulan yang kemuliaannya tak cukup hanya terangkum dalam kekata, tak akan habis keistimewaannya sekalipun dijelaskan oleh para cendekia. Hatinya bangga sejadi-jadinya, sungguh senang luar biasa. Ia berusaha mendekatkan segala ingatannya. Mengajaknya duduk bersama, berbicara nostalgia tentang masa lalu. Yang lebih banyak kurang daripada lebihnya.

Sejenak ia mengalihkan pandangnya, duduk di kursi panjang pinggir sungai. Ternyata Alquran itu masih di sana. Masih seperti dulu saat ia meninggalkannya. Sampai tiba-tiba segalanya berputar, mengejutkannya. Dan ayat itu masih jelas terngiang di telinganya. “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Alqur’an, sebagai petunjuk dan penjelasnya serta pembeda (segala yang salah dan benar)” (Al Baqarah : 185)

Tentang setiap malam Rasulullah bersama jibril membaca Al quran, “Adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebaik-baik manusia, dan sebaik-baik pula, saat Ramadhan ketika Jibril menyampaikan padanya Alquran. Dan dahulu Jibril membacakan padanya setiap malam ramadhan, maka ia mengajarkan padanya Alquran” (HR. Muttafaq ‘Alaih)  

Tentang para sahabat Rasulullah, orang-orang terbaik yang pernah hidup pada masanya, di antara mereka ada yang menyelesaikan Al quran dalam sepekan, adapula yang tiga hari, bahkan sehari pun khatam.

Az-Zuhri dulu pernah berkata, “Sungguh ramadhan itu tilawah Alquran dan saat memberikan makanan (pada mereka yang berpuasa)”

Juga sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, ‘Puasa dan Alquran kelak sama-sama akan memberikan syafaat pada seorang hamba. Puasa berkata, “Wahai tuhanku, sungguh aku telah menahannya dari makanan dan syahwat di siang hari maka izinkanlah aku memberi syafaat padanya. Dan berkata pula Alquran, “Aku telah menahannya tidur di malam hari maka izinkanlah aku memberi syafaat padanya” maka keduanya diberi syafaat oleh Allah untuk seorang hamba itu’ (HR. Baihaqi)             

Semakin lama, semakin datang semua ingatan-ingatannya. Saat dahulu ia pernah mendengar seorang imam membaca dengan syahdu ayat 29 surat Fathir, “Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah, mendirikan shalat, dan berinfak dari apa yang telah Kami anugerahkan pada mereka, secara diam-diam maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang takkan pernah rugi”

Dan kini, ia tertegun. Ia raih alquran itu, mengamatinya dengan seksama. Di dalam alquran itu, betapa besar balasan yang diberikan Allah padanya. Sungguh, lebih dari itu, ia tak ingin merugi. Usianya sudah sekian lama. Hidup di dunia ini terasa begitu lelah pun melelahkan. Ia ingin kembali mengingat Allah di dalam tilawahnya. Sama seperti yang dahulu ia pernah lakukan. Tak peduli seberapa sibuk urusan dunianya, tak peduli seberapa banyak pekerjaannya dan segala yang ia lakukan di siang hari. Ia ingin meneladani mereka yang telah lama. Yang pernah meninggalkan teladan semangat membaca dan merenungi AlquranNya.

Dan adzan isya berkumandang, mengajaknya berdiri bersama orang-orang yang berdiri. Dan rukuk bersama mereka yang rukuk.

Ramadhan, selamat datang di rumah kami. Bimbinglah kami menjadi pribadi yang kian berbakti. Kepada Allah yang  mencipta diri ini dan Rasul yang menyayangi umatnya sepenuh hati.

 

Ghurratu Ramadhan 1437 H. (1 Ramadhan 1437 H)

Bangkit, Mulia atau Hina?

Seorang kawan dari jauh pernah menceritakan kisahnya kepadaku. Dengan tenang dan senyum air mata yang tak sanggup disembunyikan.

“Suatu saat ketika kami belajar kitab Al Ajurrumiyah beberapa tahun silam, guruku pernah berujar, “Innal Insaana fil imtihan, yukram au yuhaan” (Saat ujian, di sanalah seseorang akan dimuliakan atau dihinakan).

Nama beliau Mahmud Syafi’i. Biasa kami memanggilnya Ustadz atau Syekh. Usianya sekitar tiga puluhan lewat beberapa tahun, dengan semangat seorang guru yang sungguh patut ditiru. Bagiku, ia menjelaskan bahasa arab dengan cara yang menyenangkan, mudah dicerna, tathbiqi (praktisi), setiap susunan kata yang mengalir dari lisannya –nampaknya beliau di antara Syekh yang kutemui yang menjaga susunan bahasanya secara lughawiy, sharfiy dan balaghiy– dan itulah salah satu kekhasannya yang jarang kutemui di Mesir ini. Maksudku, menjaga susunan kata dan pengucapan fathah, kasroh, susunan idhafah, na’t man’ut, dst benar-benar terjaga, dan tidak pernah berbicara pada kami, murid-muridnya dengan bahasa amiyah (pasaran). Dan di mataku, beliau adalah salah satu alasan di mana aku bisa bertahan di Mesir. Alhamdulillah, segala puji bagiNya yang mengijinkanku belajar bahasa arab di antara kedua tangannya.

Sekilas berbicara tentangnya, membuatku teringat dan merasa kembali ke beberapa waktu silam. Saat di mana belajar bersamanya sungguh membuatku betah hidup di Mesir. Sejak perkenalanku dengan beliau saat menjelaskan matan imrithiy, di antara nudhum kitab Al Ajurrumiyah, lalu beralih ke berbagai cabang ilmu bahasa arab yang lain. Sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, semua hal memang dilakukan dengan cara bertahap. Kesulitan itu seringkali berada di awal suatu langkah, serius! Akan tetapi saat kita berjalan, kita mulai menemukan berbagai hal yang tak terduga. Bahkan sanggup mengubah alur hidup, secara kecil maupun skala besar dan jangka panjang. Mulai saat itu, aku merasa mempunyai hubungan khusus dengan bahasa arab. Memberikan secercah harapan saat dahulu aku pernah merasa kehilangan. Sungguh aku bersyukur, terima kasih ya Allah.

Hari-hariku kukorbankan untuk mempelajari bahasa arab. Waktu-waktu yang kumiliki aku curahkan untuk mempelajarinya. Kusisihkan porsi lebih di sana, lebih banyak daripada belajar diktat kuliahku. Entah ini kesalahanku atau bukan, bahkan aku tak memiliki semangat untuk belajar diktat kuliah. Aku hanya ingin belajar bahasa arab. Sebab jujur ataupun tidak, dari sanalah aku mulai mampu bersikap tegar, tenang dan berfikir dengan baik dan benar. Aku tak peduli dengan hal-hal yang lain. Bagaimana aku peduli dengan semua itu, sedangkan tak pernah ada orang yang benar-benar peduli denganku? Tidak ada seseorang yang mengerti keadaanku dengan baik! Tidak pernah ada seseorang yang menemaniku saat susah dan kehilangan harapan! Bahkan orang-orang terdekatku! Aku tidak pernah merasa memiliki seseorang yang benar-benar memahami jalan pikiranku! Entah aku yang salah ataukah karena aku tidak memahami kepedulian mereka. Yang jelas, aku ingin tenggelam mempelajari bahasa arab, melupakan semuanya, melupakan segala hal yang pernah membuatku murung, melupakan watakku yang tak pernah berfikir matang. Aku mulai belajar berdiri. Dengan cara yang berbeda.

Waktu-waktu saat duduk mendengarkan penjelasan ustadz Mahmud itulah yang setiap hari kutunggu. Kuhabiskan waktu hampir enam atau tujuh jam mempelajari bahasa arab sehari, selain dengannya. Perjalananku setiap hari melewati jalur yang sama, dengan tingkatan yang semakin berbeda, aku mulai tenang dan menemukan ‘sesuatu’ yang kucari. Kembali aku bersyukur pada Allah, sungguh hanya Allah yang Maha Mengerti perasaanku.

Sepertinya aku terlalu terbawa suasana. Maaf, aku tak bermaksud seperti itu. Hanya saja kenangan selalu saja membuatku diam merenung. Jika kau sedang melihatku termenung dan diam, berarti saat itulah aku sedang mengingat kenanganku.

Kawan, seorang manusia diuji setiap waktu, dengan cara yang tidak tentu atau bahkan terkadang lucu. Terkadang pula menyedihkan dan gelap temaram. Ujian itu menyenangkan, pun bisa juga dengan sesuatu yang menyedihkan, menyita porsi berfikirmu. Pahamilah dirimu sebaik-baiknya, dekatkan dirimu dengan Allah, bertawakkal kepadaNya sepenuh hati. Tak peduli sikap acuh tak acuh orang-orang sekitarmu, tetaplah kau dekat padaNya, kau akan merasakan bahwa kau tidak sendiri, Allah Maha Mendengar pintamu, keluh kesahmu, doamu, dan harapmu. Selalulah meminta pendapatNya dalam segala hal. Semoga engkau selamat kawan.”

Aku melihat wajahnya. Sebuah ketegaran yang nampak dipaksa terlukis di sana. Aku tak sanggup membayangkan berapa lama dia mencari cara supaya harapannya bangkit sedangkan tak pernah ada seseorang yang mengerti. Supaya ia memiliki semangat hidup. Dia selama ini berjalan sendiri, tertatih-tatih.

Oh, bukan. Dia tak sendiri, dia berusaha membersamai Allah, berusaha mengikuti aturanNya supaya Dia mau menemaninya dalam hidup yang sekali ini. Dan aku menyampaikan salam padanya, bangkit, mengambil air wudhu, dan membasuh wajahku yang mulai panas berkeringat air mata.

Perjalanan Panjang

“Belajar sungguh-sungguh nak, engkau satu-satunya harapan mamak. Sejauh apapun engkau pergi, jadikan imanmu tetap terpatri di dalam hati. Kelak, jalan yang engkau lalui tidaklah mudah, segala jenis ujian akan engkau temui, berbagai macam watak manusia akan engkau lihat hakikatnya. Bagaimanapun jua, ingat nak, ingat mamakmu di negeri ini, kembalilah jika kau sudah menjadi ‘orang’. Jaga shalat malammu, puasalah di siang hari, tirulah panutan kita yang mulia itu, Rasulullah. Jangan sekali-kali kau mendurhakai Allah ketika jauh dari mamak, ingat itu, ingatlah!” Air matanya mengalir, membasahi pipi cekungnya, jatuh membentuk garis di pipinya, terkena sinar matahari pagi, berkemilau bagai mutiara.

Aku berpaling. Sungguh aku tak tahan melihatnya, bukan tak ingin memandang wajahnya. Bukan itu. Namun karena aku tahu, hidup di perantauan tidaklah mudah. Bagaimanalah akan mudah jika engkau hanya hidup seorang diri, sekalipun memiliki teman, tetap saja engkau bertanggung jawab penuh atas dirimu. Hanya Allah lah yang benar-benar mengerti perasaanmu di sana. Teman, hanya mengerti sejauh yang mereka pahami. Di luar itu, mereka hanya menduga-duga memecahkan masalahmu, berusaha membahagiakanmu sejauh yang mereka ketahui.

Tubuhku bergetar. Membayangkan segala hal yang akan kulalui di masa-masa mendatang, di hari-hari di mana aku jauh dari kampung halaman, bersusah payah berusaha menempa diri dan membuatnya tersenyum saat kembali. Aku menggigit bibir, perih.

Hari ini aku ingin bertanya kepadamu kawan, apakah engkau bosan dengan semua serial drama, cerpen sedih, roman-roman picisan yang dijual di tepi jalan? Atau novel-novel cinta yang seakan melunakkan hati pembaca? Atau engkau merasa muak dengan sinetron-sinetron televisi yang selalu saja para pemain di dalamnya tidak akan bertemu padahal hanya berbatasan tembok satu meter? Jika engkau bosan dengan semua itu, aku akan katakan kepadamu. Jujur, akupun bosan dengan semua ‘kehidupan buatan’ itu.

Alasanku, karena hidupku di negeri seberang tak pernah sama dengan kehidupan buatan mereka, para penulis dan sutradara. Aku bahkan tak mampu menceritakan padamu setiap detail hidupku di tanah yang tak kukenal ini. Aku hanya bisa mengatakan, di sana ada gedung-gedung putih menjulang tinggi, jalan beraspal yang rapi, bangunan-bangunan rumah tak berpenutup genteng, wajah-wajah manusianya terlihat putih, tampan bagi yang lelaki, menawan bagi yang wanita, adapun sifatnya, manusia di negeri ini lebih pemarah di banding di negerimu kawan, di negeri penuh tumbuhan dan sungai menenteramkan. Di sini, hampir membuatku menjadi orang yang bukan aku. Sikap tak peduli bahkan arogan, membuatku pernah merasa apakah aku sudah terlalu jauh keluar dari norma? Dan tak mengindahkan nasihat yang pernah diwasiatkan mamak?

Di dunia ini, ketika malam tiba, sungguh gelap segelap-gelapnya. Bintang-gemintang tertutupi awan kegelisahan, bahkan bulan saja tak berani melerai pertengkaran mereka. Kacau sungguh kacau. Jika siang hari engkau bekerja di negeri ini, maka malam harinya kau takkan sanggup tidur nyenyak seperti yang selalu kau rasakan di negerimu. Seakan ada kekuatan lain yang tidak terlihat di dalam negeri ini.

Namun, ketenangan yang engkau rasakan di negerimu adalah ketenangan yang semu. Tidur pulasmu setiap malam sebenarnya bagian dari cara pemimpinmu membuat kalian diam, atas segala cela dan kekejian yang mereka lakukan diam-diam. Hingga kau merasa bahwa negerimu aman, gemah ripah loh jinawi. Padahal kebakaran di sana-sini sedang terjadi. Kebakaran hutan, kebakaran rumah, kebakaran moral, kebakaran jenggot, kebakaran gedung bertingkat dan kebakaran-kebakaran yang tak pernah diberitakan media. Kau lihat tadi malam siaran televisi negerimu? Pembunuhan yang dilakukan remaja bersama teman-temannya, pencurian dan pemerasan di jalan depan sekolah, gang kecil sebelah selatan kantor pajak? Apa sebenarnya yang terjadi di negerimu, bung? Mengapa terlihat carut marut, sedangkan kalian masih saja bisa tersenyum, melupakan seluruh masalah yang harus segera diselesaikan, agenda mendesak yang perlu secepatnya dilakukan?

Ah, lupakan. Tidak ada gunanya bercerita negerimu dan negeriku bung. Hanya akan buang-buang waktu. Baiklah, sebaiknya aku bercerita yang lain, dahulu saat kecil aku pernah mendengar, ada suatu negeri, yang di dalamnya pohon-pohon berjajar rapi, taman-tamannya indah tak terperi, mengalir di bawahnya sungai-sungai, madu, air, arak dan susu, engkau hanya tinggal memilih. Di dalamnya ramai orang-orang baik, tak pernah sekalipun mereka berkata omong kosong dan jorok, apalagi berbantah-bantahan. Manusia di dalamnya sungguh tinggi, 60 hasta. Kabarnya, mereka yang ada disana tidak sembarang orang. Harus memenuhi sekian persyaratan. Ada yang seakan berat namun ada pula yang ringan, engkau bisa melihatnya di kitab suci kami, Al quran, dan bisa juga kau temukan di kitab-kitab sunnah Nabi kami.

Tiba-tiba aku terbangun. Ternyata semua ini hanya mimpi. Ngomong-ngomong, apa saja yang sudah kukatakan kepadamu?

Oh ya, mamak, tentang mamak ketika aku berpisah ke negeri seberang. Ia menangis, melepas kepergianku. Tenang mak, kepergianku tidak akan lama, aku akan kembali ke pangkuan mamak, mengabdi kepada Allah dan berbakti kepada mamak. Tak perlu mamak risau denganku, cukup doakan saja. Semoga Allah menjadikan semuanya baik-baik saja. Assalamualaikum mak, jaga kesehatan di rumah ya, saya pergi, sampai jumpa.

“Selamat tinggal, nak” Mamak melambai dari kejauhan. “Tenang mak, kali ini aku akan ingin pergi ke negeri yang tenteram, dengan sungai susu dan madu di dalamnya, aku sangat ingin minum air sungai itu”

“Iya nak, semoga Allah merahmatimu, mengizinkanmu meminumnya”

Dan aku pergi, bersama meningginya matahari.

 

 

Kairo, di tengah masa ujian, 25 Mei 2016, saat mendengar kawan-kawanku berbincang, tentang ujian. Dan aku diam mendengarkan.

 

Ujian Al Azhar 2016, Petarung Dan Pemohon

Seringkali pikiran lebih hebat daripada perkataan maupun tulisan kita. Banyak sekali hal yang berada di benak kita, namun untuk beberapa alasan kita tidak mengutarakannya. Maka, ada seorang kawan yang nampak biasa saja hanya karena ia berbicara sederhana dan tak pandai menulis, padahal jika kau berteman dalam jangka waktu yang lama dengannya, kau tentu akan sepakat dengan kesimpulan yang kudapat. Kesimpulan itu adalah pikiran yang mengalir di kepalanya bukan cara berpikir orang biasa. Bahkan jika kau pernah mempelajari tokoh-tokoh dunia yang terkenal, baik karena kebaikannya maupun kebengisannya, engkau akan takjub, sebenarnya mereka dengan kawanku itu setara, hanya dalam bentuk yang sedikit berbeda. Aku takkan berbicara omong kosong di depan kaum intelektual seperti kalian. Aku mengungkapkan apa yang harus diungkapkan, sekalipun memang itu subyektif. Namun siapakah yang bisa berlepas diri dari pandangan subyektif?

Paragraf pertama di atas hanya sebuah muqoddimah, boleh kau anggap serius, boleh juga tidak, aku tak terlalu memusingkan hal itu. Aku hanya ingin bercerita, cukup itu saja. Selebihnya terserah kalian, pembaca.

Seperti siang ini, saat aku duduk di bawah pohon tak berbuah -bukan karena pohon itu belum berbuah, namun karena memang bukan jenis pohon buah-, ia mendatangiku, tiba-tiba duduk di sampingku. Membawa sebuah buku yang tak asing dalam keseharian kami. Dijilid dengan sederhana, tak sebanding jika dipadankan dengan kitab-kitab mahal cetakan Muassasah Risalah[1] yang harganya yafuuqu as sama’[2], atau bahkan penuh sobekan di sana-sini, sebab seringnya dibuka dan dibaca. Namun, kualitas keilmuan di dalamnya bisa disebut mata air yang mengalir penuh ilmu dan arti dari buah pikiran dosen kami. Baiklah, biasa atau tidak biasa merupakan kondisi sebuah anggapan, namun bagiku, buku semacam itu sudah mencapai suatu hal yang tidak biasa, dengan segala hal yang unik di dalamnya, penulisannya, mukhtashar[3] ilmu yang terpatri di sana, dan hal-hal lain yang istimewa. Dan seringnya kami menyebut buku itu kitab muqorror.

Agak sedikit tidak jelas nampaknya, namun itulah letak penasarannya. Lantas apa yang ingin ia sampaikan kepadaku, kepada kalian? Dia hanya tersenyum, khas lelaki periang yang banyak menyembunyikan kepahitan hidup merantau mengais ilmu di tanah ini, yang bagi dia, beratnya sungguh sering membuat mata memerah hingga meneteskan air mata di tengah malam. Padahal ia lelaki, mengapa harus menangis. Pernah suatu saat ia kutanya, ia hanya meringis, bertutur ringan, “Titik persoalannya itu bukan terletak pada lelaki menangis atau tidak, namun terletak pada ‘kepada siapa ia menangis?’ karena ketegaran seorang lelaki, keperkasaannya, kehebatan bertahan dirinya di tengah pertarungan adalah suatu hal yang jelas wajib ia miliki. Yang kadang belum ia miliki adalah kerendahan dirinya saat bertemu Sang Pencipta, menangisnya memohon ampun Tuhannya, meminta kepada Yang Maha Tinggi sedangkan ia adalah seorang yang hina dina”

Benar, hidup di tanah ini terlalu keras untuk pemuda seperti kami. Bukan karena kekejaman tanah ini, namun karena pertarungan dengan diri kami sendiri, setiap hari. Musuh yang paling susah kami tundukkan adalah diri dan jiwa ini. Mudahnya memberikan nasihat di saat seorang kawan memintanya, mengatakan kebenaran kepada orang lain, di hadapan orang lain, mengatakan sejujurnya kesalahan yang diperbuat orang lain, mengatakan banyak teori yang sanggup mengangkat harkat, hingga beberapa orang mengatakan bahwa kau adalah orang yang bijak nan berilmu. Semua itu jauh lebih ringan dan mudah dilakukan daripada cermin sikapmu dan apa yang akan kau lakukan jika berhadapan dengan dirimu sendiri. Jika kau pemuda, tentu kau akan paham tanpa perlu berbusa-busa kujelaskan.

Di tanah ini, Mesir. Seorang lelaki berhadapan dengan segala ujian, dari berbagai jenis dan sudut pandang. Yang pada akhirnya, keberhasilannya secara nyata tak bisa digambarkan, kebahagiaannya terlalu kerdil jika disamakan dengan kesuksesan dan kekayaan harta. Berhati-hati terhadap ilmu yang sanggup meninggikan hati itu juga termasuk hal yang penting kau perhatikan. Bagaimana tidak, jika semakin banyak pundi-pundi keilmuan yang didapatkan justru meninggikan ke-jumawa-an? Senantiasalah berdoa pada Allah supaya menjadikan ilmu yang dimiliki, bermanfaat dan semakin mendekatkan diri dan ruh kita kepada Yang Kuasa.

Hari-hari ini, kami dihadapkan dengan ujian Al Azhar termin kedua, ujian penetuan kenaikan tingkat. Untuk tidak berlebihan akan kukatakan bahwa pada hakikatnya, ini lebih mengerikan daripada Ujian Nasional kelas 12 SMA yang pernah kau ikuti. Hanya saja jika kelak kau pernah berkunjung ke sini saat masa-masa ujian, kau takkan melihat kengerian itu di wajah para mahasiswa –hasil ini kukatakan atas pengamatanku selama empat tahun berada di sini- bahwa mereka tetap sebagaimana biasa. Hanya saja, terlihat biasa bukan berarti mereka tidak merasa tertekan atau tanpa memiliki beban. Masing-masing seakan menyembunyikan segala hal misterius dalam nadi mereka, ada yang terlihat biasa dan memang berjalan biasa sebagaimana adanya, namun ada yang nampak biasa dengan gejolak yang menggelegak di sepanjang pembuluh darah mereka.            

Bung, di akhir tulisan ini, aku akan katakan rahasianya mengapa tidak ada inti yang pasti dalam setiap tulisanku, dengan arti “pasti” yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia tentunya. Karena tulisanku, aku tak ingin memasukkannya ke sekolah genre apapun. Ia hanya seorang bayi yang terlahir dari rahim pikiranku, berkembang dari waktu ke waktu, aku mendidiknya dengan caraku, berusaha untuk melatihnya hingga menjadi seorang petarung di satu sisi dan pemohon di sisi lain. Aku akan berusaha sungguh-sungguh semampuku untuk melatih kemampuan anggota tubuhnya, semuanya. Menjadikan seluruh pikiran, jiwa, syaraf, sendi dan ujung kulitnya sebagai senjata, yang jauh lebih hebat daripada senjata yang diciptakan untuk membunuh. Hingga ia sanggup menyeleraskan segala tangkisan, pukulan, tendangan, bantingan, kuncian, dengan nafasnya. Juga menggunakan berbagai jenis senjata dari setiap jenis perguruan bela diri di dunia. Menghadapi segala hal yang akan menjadi rintangan di dunia, dan menghadapi segala marabahaya yang dilancarkan setan padanya.

Dan aku akan berjuang menjadikannya sebagai pemohon. Di tengah malam, sepertiga malam terakhir, atau saat sahur. Begitupula di setiap waktu yang ia lewati. Sehingga ia akan terus bertahan, dengan kuda-kuda kokoh, langkah bergeser, berjalan, maupun berlari dengan cara yang elegan. Di setiap kegelisahan yang kelak akan membuatnya seakan berbeda, di waktu kemalasan menjadikannya seperti orang tak kukenal, atau kemarahannya yang tak bisa dikendalikan. Hanya dua hal itu, petarung dan pemohon. Petarung di atas dunia, dan Pemohon kepada Dzat yang tak akan dikalahkan oleh siapa-siapa, Kuasa atas tujuh langit dan tujuh bumi serta segala yang ada. Allah ta’ala, kepadaNyalah kita akan kembali, bagaimanapun keadaan diri kita.

Alhamdulillah.

 

Senin, 9 Mei 2016

Ditulis ketika bayangan pena hampir sama dengan panjangnya, mendekati waktu wustha[4], dengan segala harapan, semoga Allah memberikan taufiq dan hidayahnya kepada kami, seluruh mahasiswa Al Azhar yang sedang menempuh ujian kenaikan tingkat dengan sepenuh harap dan tekad.   

[1] Salah satu penerbit ternama di negeri arab yang mencetak buku-buku dengan cetakan bermutu tinggi

[2] Arab : mencapai langit

[3] Arab : ringkasan

[4] ashar

Sebuah Bekas Kehilangan yang Takkan Hilang

Wajahnya tidak terlalu tirus, matanya agak cekung ke dalam, hidungnya sama dengan orang kebanyakan. Hanya satu yang berbeda. Mulutnya selalu bergerak. Sekalipun ia tidak berbicara, tetap saja bergerak. Aku penasaran dengannya, maka kutanya, mengapa ia selalu terlihat seperti itu. Ketika mendengar pertanyaanku, ia tersenyum. Hanya melambaikan tangan, berjalan pergi. Sampai suatu saat ketika aku mengulang pertanyaan yang sama ratusan kali, aku tertegun. Aku melihat sesuatu yang bukan dirinya menjawab pertanyaanku. Aku tidak peduli. Mataku hanya tertuju pada mulutnya yang bergerak. Ia memulai sihirnya. Dan aku terdiam, mendengar sepenuh hati, penuh arti.

“Wahai sobat, gerangan apa yang membuatmu menatapku laksana anak ayam melihat induknya pulang setelah lama terpencar dari saudara-saudara yang lain. Aku tidak akan pernah sama dengan yang kau bayangkan. Aku bukan seperti itu … ” Ia menarik napas dalam, tangannya mengepal.

“Dahulu, saat kecil aku pernah mendengar orang tuaku berkata padaku, lebih tepat jika menurut sudut pandangnya disebut nasihat, namun waktu itu aku menganggapnya sebagai kemarahan seorang ayah yang tak terbendung, hanya karena aku menangis, tak berhenti, dari pagi hingga malam hari. Aku dibiarkan, tidak dipedulikan apapun yang kuperbuat … ” Ia berhenti, matanya agak sedikit memerah. Agaknya masa lalu itu mempengaruhi dirinya. Aku tahu betul, jauh di dalam dirinya, ia merindukan ayahnya. Ia adalah orang terbaik yang pernah dilahirkan kampung kami. Belum pernah ada orang sebaik dirinya yang kukenal, sebelum atau sesudahnya.

Ia melanjutkan, “Setiap sesuatu memiliki batas, begitupun aku. Kau tahu? Sejak pagi diacuhkan hingga akupun lelah, lapar melilit lambungku dan membuat tangisku berhenti dengan sendirinya. Di tengah gelapnya malam aku akhirnya tertidur di luar, dengan dingin yang benar membuat darah membeku jika tidak bergerak, bagaimana tidak, bahkan tetesan air keran yang ada di depanku saja tak sempat menyentuh tanah, masih menempel di ujung keran, menggantung putus asa”

“Namun karena lapar dan lelah mengalahkanku, aku akhirnya tak merasakan apapun. Hingga ada seorang lelaki mendatangiku, langkahnya jelas kukenal. Tangannya meraih badanku yang menggigil. Kekar lagi hangat kurasa di bahu kanan dan lembut di bahu kiriku. Aku jelas tersadar saat itu, namun mataku seakan membeku, enggan membuka”

“Ia meletakkanku di depan sofa, di depan perapian. Aku mendengar suara api yang sedang memakan kayu bakar sedikit demi sedikit.” Ia berhenti ke sekian kali, merapatkan jaket hitam yang dikenakannya.

“Lelaki itu menutupi badanku dengan selimut tebal, perlahan. Lalu menjauh beberapa meter dariku. Ia kembali membaca Al-qur’an di tangannya, dengan suaranya yang khas. Sampai beberapa menit setelah itu ia menutup mushaf sedang di depanku suara api jelas terdengar mematahkan beberapa batang kayu lainnya. Ia tiba-tiba berbicara, seakan kepadaku”

“Aku mengerti yang kau rasakan, nak. Kehilangan seorang ibu bukanlah hal yang mudah. Apalagi dengan usiamu yang masih sekecil ini. Kau belum banyak mengerti rupanya.” Ia terdengar tersenyum, sekalipun ada kesedihan di sela bibirnya.

“Namun, sadarkah engkau, selalu ada hikmah di setiap yang Allah gariskan kepada para hambaNya. Tidak hanya para nabi dan orang-orang shalih saja, namun kita juga. Hanya saja, beda mereka dengan kita adalah, kita terlampau cepat marah jika tidak memahami maksudNya. Lihat saja Nabi Ayyub alaihis sallam! Berapa lama ia diuji? Hilang segala yang pernah ia miliki, ditambah penyakit yang ada di tubuhnya menggerogoti. Lihat pula orang-orang yang dahulu berjuang bersama Nabi Muhammad di awal masa-masa islam sedang disuarakan. Ujian yang mungkin tidak pernah mampu kita bersabar atasnya. Bilal yang dijemur di atas pasir di musim panas, lagi ditindih batu besar, lalu diseret keliling kota, Yasir yang dibunuh karena ia berislam, mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Serta diasingkan bagi mereka yang tak punya pembela, tanpa minum tanpa makan, disiksa habis-habisan. Hingga yang bertahan adalah mereka yang memiliki kekuatan iman. Luar biasa teguh, sedang hatinya tak goncang. Apapun yang menimpa, mereka sadari betul itu adalah bagian dari perjuangan. Hingga jalan itu pun terbuka lebar. Islam menjadi tambatan hati yang peduli sebuah masa depan yang benar-benar berarti. Karena surgaNya takkan pernah terganti. Hanya mereka yang sabar, yang selalu bertawakkal kepada Allah di setiap cobaan, yang Allah janjikan surga. Mereka adalah para pewaris surga.”

“Berjuanglah anakku. Allah takkan pernah menyiakan segala niat dan perbuatan baik hambaNya. Bersabarlah atas segala yang menimpamu. Beruntung, sekecil ini kau sudah diajarkan Allah untuk belajar mengerti. Tak banyak di luar sana orang-orang seusiamu yang seperti ini. Dengan izin Allah, kelak kau akan lebih kuat dari mereka. Selalulah mengingatnya, di setiap waktu dan usia. Basahilah lisanmu dengan doa dzikir, serta memohon ampun atas khilaf yang sering kita lakukan kepadaNya. Aku yakin, engkau akan menjadi orang yang berbeda. Tanpa mencela dan menghina, lakukanlah perbuatan baik di manapun engkau berada. Tanamlah, semoga kau memanen dengan sepenuh bahagia.”

Tidak ada yang ingin kukatakan padanya, kecuali terima kasih atas penjelasan sepanjang itu. Jika aku boleh berkata, ini memang biasa tampaknya. Namun bagiku, ini lebih berharga dari segala yang aku punya. Aku takkan pernah menyiakannya. Tidak akan.

 

 

Kairo, di tengah hari yang agak membara, 5 April 2016

 

Batu

Sore itu, tak banyak yang dilakukannya. Lelaki itu hanya berjalan di trotoar tepi jalan yang berdebu, menuju arah matahari terbenam. Dan waktu-waktu seperti inilah yang sering mendatangkan banyak ide tak terduga, pemikiran-pemikiran yang tak biasa. Namun sayangnya, ia bagai kuda liar, jika tak segera dijinakkan dan dikekang, ia akan lari dan takkan pernah kembali.

Seperti saat ini, dia berfikir dan mengisahkannya padaku, sembari tersenyum ia berujar, “Kawan, jika kita mau sedikit menelaah, sesuatu yang kecil di dekat kita terkadang luput dari perhatian kita. Terlebih jika hal itu merupakan sesuatu yang remeh temeh dan tak penting menurut kita”

Lalu ia berhenti sejenak di dekat sebuah batu seukuran genggaman tangan, mengambilnya dan memperlihatkan kepadaku, “Lihatlah, apa yang kau pikirkan tentang batu ini?”

Aku diam, tak menjawab. “Ah, kau tentu memikirkan hal yang kupikirkan bung, bukankah sejak kecil kita selalu bersama, membagi pikir yang tak sama. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu sikap kita nampak sama, hingga orang-orang pun mengatakan bahwa kau dan aku, tak ubahnya dua orang yang terlahir dari rahim yang sama dan kembar tak ada bedanya”

Aku tetap diam. Sembari memandang garis wajahnya dan matanya. Guratan kerasnya hidup nampak di sana. Ia menghampiriku dan menepuk bahu, lantas berkata, “Kau tentu pernah mendengar bahwa kata ‘batu’ terlampau sering diungkapkan Alquran dalam beberapa tema. Makhluk ini bahkan berulang-ulang menjadi perumpamaan serta peringatan bagi orang-orang sebelum kita. Jika membaca Alquran dan tak sekedar membaca, kau akan mendapati di sana beberapa ungkapan yang berbicara tentang makhluk ini, di antaranya di surat Al Baqarah ayat 264, bacalah dan renungi, semoga itu menjadi sesuatu yang berarti. Di sana Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian merusak (menghilangkan) sedekah kalian dengan menyebutnya serta menyakiti (perasaan penerima), sebagaimana orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (ingin dilihat orang lain) dan ia tak beriman pada Allah serta hari akhir. Maka perumpamaan mereka itu seperti batu licin dengan tanah di atasnya, lantas batu itu ditimpa hujan lebat hingga bersih seakan-akan tak pernah ada di atasnya. Mereka tak memiliki sesuatupun dari apa yang mereka usahakan. Dan Allah tidak memberi orang-orang kafir satu petunjuk”

Aku sedikit tersenyum melihatnya berbicara. Menyitir salah satu ayat alquran. Di sana, matahari semakin menuju ke haribaan, aku pun berjalan mengikuti langkahnya yang semakin memelan. Ia melanjutkan, “Pernahkah kita benar-benar memiliki uang? Harta kekayaan? Apakah semua perabotan yang ada di rumah kita itu semuanya milik kita? Perkakas mewah yang ada di ruang tamu, gelas-gelas dan piring-piring antik di lemari dapur, apakah semua itu benar-benar milik kita? Aku rasa tidak, kita hanya sedikit tertipu, kemudian yang sedikit itu semakin lama menjadi banyak, sehingga kesimpulannya adalah kita benar-benar tertipu” Ia berhenti sesaat.

“Semua itu hanya dipinjamkan kepada kita untuk sementara waktu saja. Harta itu kelak akan habis, demi keperluan dan kebutuhan kita tiap harinya. Lalu kita mencari lagi, menghabiskan lagi, mencari lagi, menghabiskan lagi, dan begitu seterusnya. Sehingga harta kita bukanlah yang masih berbentuk uang, namun yang telah kita belanjakan, sedangkan yang kita belanjakan belum tentu milik kita selamanya, karena sewaktu-waktu ia akan tiada, ditelan banjir bandang, pecah terjatuh di atas lantai, atau rusak dimakan rayap. Artinya, jika kita menyimpan semua itu, lambat laun akan tiada, dengan berbagai cara. Ada satu cara yang menjadikan semua itu tersimpan, dalam makna yang sebenarnya. Tahukah engkau?” ia memandangiku, tersenyum pula.

Aku sedang memandang langit, menggambar semua penjelasannya.

“Kau, infakkanlah yang kau ‘miliki’ itu demi Dia. Kepada siapapun yang kau liat ia membutuhkan. Karena sebaik-baik pemberian adalah pemberian kepada orang yang sedang butuh. Bersihkan niatmu untuk memberikan ‘milikmu’ itu kepada orang lain, kepada mereka yang berjuang di jalan Allah dengan segala cara yang benar. Ubahlah hartamu menjadi amal jariyah, gunakanlah hartamu dengan cara yang tepat, sehingga kau kelak tak menyesal pernah hidup di dunia. Sehingga dengan niatmu yang murni dan jernih itu mengalir pula rahmat Allah kepadamu, bahkan saat Allah telah memisahkan jasad dari ruhmu, namun kau pun perlu ingat satu hal, kawan.” Ia berhenti, matanya sedikit memerah diterpa sinar matahari senja. Sendu.

“Jangan sampai semua infakmu itu tertimpa hujan lebat dan hanyut tak berbekas. Jangan sampai engkau biarkan batu itu kembali licin mengkilap setelah kau beri tanah di atasnya. Kau justru harus membangun di atas batu dan tanah tersebut sebuah rumah yang kelak akan kau tinggali di akhirat sana. Jangan sampai berinfak hanya karena supaya kau ingin disebut dermawan, dan terkenal dari mulut ke mulut. Sungguh rendah nian dirimu jika seperti itu. Tak ubahnya kau dengan mereka, yang merasa sudah berbuat baik di hidupnya namun nestapa pada akhirnya, di hadapan Allah yang Maha Kuasa, saat tiada kekuasaan yang ada melainkan kekuasaanNya”

Kulihat, matanya semakin memerah. Pantulan matahari nampak di pelupuknya, menetes dan laksana kristal berwarna merah senja, air itu membentur jalan yang berdebu. Bersatu dengan tanah, menjadi saksi atas jiwanya yang murni. Hingga aku tertegun dengan lamunanku, mengapa Allah mempertemukanku dengan orang-orang sepertinya, yang tanpa kuminta senantiasa mengajarkan hikmah tiada tara. Hingga saat ini, di usiaku yang senja, belum kutemukan orang lain sepertinya. Dan kau tahu? Senja itu mengembalikan segala ingatanku tentangnya, yang semakin dilupakan semakin nyata.

 

Setelah berlelah-lelah selama sepekan, teringat kawan lama di akhir pekan, di Suq Asyir, Hay Asyir, Madinat Nasr, Cairo, 24 Maret 2016

Menjadi Orang Yang Tak Sama

“Jalinlah persaudaraan yang kuat dan jangan jadi orang biasa seperti kebanyakan, gunakanlah waktu untuk mengoptimalisasikan skill anda” (Pak Haidar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

Siang itu pukul 14.00 CLT, terlepas dari rasa lelah selama perjalanan kunjungannya ke Turki kemudian singgah di Kairo selama tiga hari ini, beliau masih sempat menyampaikan sebuah prinsip hidup kepada kami. Ditemani oleh istrinya, Bu Noordjanah yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, serta beberapa kolega beliau, sejenak memberikan kesejukan di musim panas ini.

Lebih kepada motivasi, beliau menjelaskan tentang satu hal yang harus kita miliki. Baik dalam lingkup organisasi maupun pribadi. Bahwa kita perlu memiliki nilai plus yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sebuah pembeda antara kita dan mereka. Sehingga saat ada seseorang berkaca di depan kita, ia menemukan nilai baik yang berbeda di antara orang kebanyakan yang ada.

Semakin jauh lagi, sekarang kita hidup di dunia kompetisi. Persaingan dan perlombaan hidup seakan tak henti-hentinya berlari. Terus maju dan menciptakan dunia baru. Belum pernah ada dunia yang seperti ini sebelum-sebelumnya.

“Sehingga jika kita tak sanggup bersaing dalam dunia ini, milikilah nilai yang berbeda dari yang lain, niscaya itu akan menjadikanmu lebih berarti dibanding mereka yang hidup biasa” (Pak Muhajir Effendi, Mantan Rektor Universitas Muhmmadiyah Malang)

Jalan yang kita tempuh, dari hari ke hari kian berwarna. Kompleksitas masalahnya pun semakin tak sama dengan orang-orang sebelum kita. Maka inisiatif untuk berbuat baik dan benar harus setiap hari kita asah. Pemikiran dan wawasan kita harus selalu kita latih dan kembangkan. Sistem hidup kita pun seyogyanya kita perlu atur kembali ketika sudah terlalu berubah dari rencana dan target tujuan, supaya kita tidak tergerus oleh zaman.

Hakikatnya, kita hidup bukan sekedar untuk hari ini. Karena esok hari akan ditentukan oleh yang kita lakukan pada hari ini. Maka, perbaikan semangat dan niat perlu kita perhatikan. Luangkan waktu dalam satu hari untuk berinstropeksi diri, menelaah kembali kealpaan diri selama kaki kita menapaki bumi. Benar-benar berusaha mengubah segala yang salah, dan bertekad untuk terus menanam kebaikan di manapun berada, apapun keadaan dan kondisinya. Kau tau? Hidup ini terlalu singkat untuk melakukan hal yang sia-sia.

Yang terpenting adalah kesadaran kita bahwa hidup di dunia ini harus maksimal. Bekerja untuk bertahan hidup di dunia serta beramal shalih demi hidup di akhirat. Sebagaimana yang kita mengerti namun sering alpa bahwa kesempatan hidup kita di sini hanya sekali. Takkan ada waktu menanam kebaikan lagi setelah Allah memanggil ruh ini. Sungguh, kita pun tak ingin berakhir seperti mereka yang dikisahkan Alquran di surat Al Mu’minun ayat 100, “Sampai saat kematian mendatangi salah seorang dari mereka, ia berkata, ‘Wahai tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) niscaya aku akan beramal shalih, yang dulu pernah kutinggalkan’. Sekali-kali tidak akan. Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di belakang mereka ada dinding hingga hari kebangkitan”

Saatnya berhenti sejenak, menangisi dosa-dosa yang diperbuat serta mohon ampunannya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Lantas, kuatkan tekad untuk membuat hidup lebih bermakna, dengan sesuatu yang berbeda. Dan akhir kata, rasa-rasanya kita harus punya trademark, apapun ia.

 

Saat matahari sepenggalah dan anak onta merasa kepanasan, Hay Ashir, Madinat Nasr, Selasa, 22 Maret 2016

             

Jangan Sampai Malasmu Mengalahkan Kegigihanmu

20 Maret 2016, Kairo, saat musim panas sedang bangun dari hibernasi ringannya

“Jangan sampai rasa malasmu mengalahkan kegigihan dan rencanamu” Ujarnya seraya memandang murid-murinya

Dia seorang pekerja keras. Itu jika yang ia lakukan pantas disebut pekerjaan. Dalam arti sebenarnya. Hari-hari yang dilewati jauh dari kata santai dan berpangku tangan. Setiap detik tidak akan ia biarkan berlalu tanpa sesuatu yang baru, pun bermutu. Ia selalu menggunakan rangkaian harinya untuk berfikir. Berfikir dalam arti yang luas. Dan merealisaikan fikirannya dalam bentuk langkah yang nyata.

Kisaran usianya sudah mencapai kepala lima, namun semangat hidupnya jauh di atas mereka yang 30an. Etos kerja dan berfikirnya patut ditiru. Sedang ilmu yang ia miliki sungguh benar-benar berarti, bagi kami, mereka, dan semua orang yang sedang belajar budi. Ia tersenyum di tiap kata yang mengalir dari lisannya. Memberikan sebuah hikmah dan kesadaran di tiap susunan katanya. Menjadikan kami yang mendengar menganggukkan kepada, mengiyakan.

Buku yang ditulisnya pernah menjadi buku bahasa Arab terbaik di dunia tahun 2008. Kalian bisa melihat di bukunya, mengapa bisa sampai seperti itu. Kemudian ia mengajar murid-muridnya dengan buku-buku yang ia tulis saat itu. Di antaranya, Nahwu Al Kafi, Syarh Al Ajurrumiyah Al Kafi, Sharf Al Kafi, Balaghah Al Kafi, Mulakkhos Qawaidil Lughah, Qawaidul Imla’. Dan sekarang ia sedang menyelesaikan buku berjilid-jilidnya dengan judul Tafsir dan I’rab Alquran.

Jika kau bertemu dengannya, kupikir kau akan setuju dengan yang kupikirkan. Atau setidaknya kita punya kesamaan berfikir dalam beberapa aspek tertentu tentangnya. Itu tidak masalah. Bagiku, ini hanya sebuah ungkapan tentang dirinya. Karena kulihat kesibukannya mengajarkan ilmu yang dimiliki sungguh tak bisa diremehkan. Hingga diundang ke Saudi beberapa kali dalam kurun setahun, begitupula dalam undangannya ke Kuwait serta negara-negara berbahasa Arab lainnya. Dan tahukah kau? sekarang ia sedang berada di Indonesia, terakhir kali kemarin 3 hari yang lalu ia berada di sekitar Tasikmalaya. Apa yang diperbuatnya? Ia ahli bahasa Arab, mengajarkan bahasa arab di beberapa tempat, memberikan metode yang sederhana dan mudah, bahkan untuk pemula dan anak-anak sekalipun. Kabarnya ia pun hafal Mu’jam al Wasith yang dijadikan kamus diktat di beberapa pesantren di Indonesia dan sering digunakan rujukan di berbagai penuisan karya ilmiah.

Kurasa tak perlu panjang lebar pendeskripsian tentangnya. Inti yang perlu diambil adalah, usaha yang dilakukannya dalam keseharian. Ia tidak pernah berhenti berdedikasi, untuk kemajuan ilmu bahasa Arab dan keterjagaannya.

Teringat perkataannya beberapa waktu silam, “Dulu saat saya masih bersekolah menengah, saya bahkan pernah menghafal buku IPA yang saya pelajari, sampai-sampai seakan ketika berfikir, saya membukanya halaman demi halaman, kata demi kata nampak jelas di benak saya. Ingatlah, bahwa saat kau ingin menghafal dan menguasai sesuatu, lakukanlah itu berulang-ulang. Sesering yang kau bisa, dan silakan rasa bosan itu menghampirimu namun jangan biarkan ia mengalahkanmu”

Kami terduduk, diam. Sulit wahai guru. Namun, kami takkan pernah melalaikan nasihatmu. Karena kesulitan datang bersama kemudahan, sungguh kemudahan akan datang saat ada kesulitan.

Beliau adalah Syekh Aiman Amin Abdul Ghani. Semoga Allah senantiasa menjagamu.